Kamis, 21 Agustus 2008

Beton=Batu Buatan Manusia

Beton=Batu Buatan Manusia

My. Jurnal

PENDAHULUAN

Sejak manusia mengenal konstruksi berbahan batuan maka orang akan mengingat beton, membangun rumah dengan konstruksi beton akan menghasilkan bangunan yang lebih kuat dan mudah untuk dibentuk. Beton merupakan komposisi antara agregat kasar, halus, semen, dan air yang dicampur sehingga dapat dibentuk sesuai dengan keinginan manusia. Dalam dunia teknik sipil beton dipergunakan sebagai bahan struktur pondasi, balok, plat. Sipil hidro beton digunakan untuk bangunan air seperti waduk, dam, drainase, saluran pembuangan, dan bendungan besar. Beton juga dipergunakan untuk sipil transportasi untuk pekerjaan rigid pavement (lapis keras permukaan yang kaku). Jadi beton dipergunakan semua aspek ilmu teknik sipil. Artinya semua struktur dalam dunia teknik sipil akan menggunakan beton, minimal untuk pekerjaan struktur bawah.

Seiring dengan kemajuan dunia maka penggunaan beton terhadap keperluan/kebutuhan manusia semakin meningkat. Dan dengan cepatnya perkembangan dalam bidang seni serta analisa perancangan dan konstruksi beton sehingga menjadikan konstruksi dibangun sesuai dengan ciri khasnya. Serta kwalitas dari beton senantiasa berkembang seiring dengan kebutuhan manusia akan kehidupan dan kecepatan pemenuhan kebutuhan hidup.

Beton sudah menjadi trend dan komoditi masyarakat dalam merencanakan suatu bangunan, baik dari tingkat satu sampai berpuluh tingkat, akan tetapi dalam pemakaian beton dengan mutu tertentu ditinjau dengan pemakaian material yang bagus serta memenuhi syarat yang sudah di standarkan oleh lembaga yang memiliki wewenang/tugas untuk mengeluarkan ketentuan-ketentuan yang menjadi acuan dalam pembuatan beton.

Departemen Pekerjaan Umum sebagai lembaga yang berkecimpung dalam urusan dunia konstruksi di Indonesia selalu mengikuti perkembangan beton melalui Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan (LPMB). Melalui lembaga ini diterbitkan peraturan – peraturan standar beton yang biasanya mengadopsi peraturan international (code standard international) yang disesuaikan dengan kondisi bahan serta jenis konstruksi yang ada di Indonesia.

KELAS & MUTU BETON

Dalam peraturan PBI (Peraturan Beton Bertulang Indonesia) 1971, beton terbagi atas 3 (tiga) kelas sebagai berikut :

1. Beton kelas 1, yaitu beton untuk pekerjaan – pekerjaan non struktural yang mana pelaksanaannya tidak perlu atau tidak dibutuhkan keahlian khusus dan pengawasan mutu ringan. Mutu beton kelas 1 dinyatakan dengan Bo. Di dalam bangunan, beton kelas 1 dipakai untuk lantai kerja, sebagai alas pemasangan besi untuk pembuatan pondasi plat beton, dan untuk rabat beton.

2. Beton kelas 2, yaitu beton untuk pekerjaan –pekerjaan struktural secara umum yang pelaksanaannya diperlukan keahlian yang cukup dan harus dilakukan di bawah pimpinan tenaga ahli. Beton kelas 2 dibagi dalam mutu – muitu standar, yaitu B1, K125, dan K225. Untuk mutu B1, pengawasan mutu hanya terbatas pada pengawasan sedang (terhadap mutu bahan – bahan), sedangkan kuat tekan tidak disyaratkan diperiksa. Untuk mutu K125, K175, dan K225, pengawasan mutu bahan – bahan harus ketat dan harus ada pemeriksaan kekuatan tekan beton.

3. Beton kelas 3, yaitu beton untuk pekerjaan struktural yang mutunya lebih tinggi dari K225 pelaksanaannya diperlukan keahlian khusus dan harus dilakukan di bawah pimpinan tenaga – tenaga ahli. Untuk mutu disyaratkan adanya laboratorium beton dengan perlengkapan lengkap dan dilayani oleh tenaga – tenaga ahli yang dapat melakukan pengawasan secara terus menerus. Di dalam bangunan mutu beton di atas K225 dipakai untuk bangunan dengan beban yang sangat berat seperti jalan raya utama, jalan propinsi, jalan tol, jembatan pratekan dengan bentang yang panjang, dan jalan layang.

Mutu beton K125, K175, K225, dan seterusnya mengandung arti. Huruf K di depan angka menandakan karakteristik dari beton tersebut, sedangkan nilai 125, 175, 225, dan selanjutnya dinyatakan kekuatan tekan karakteristik 125 kg/cm², 175 kg/cm², 225 kg/cm², dan seterusnya.

KOMPOSISI CAMPURAN BETON

1. Semen

2. Air

3. Agregat Kasar

4. Agregat Halus

Semen, nama tersebut lebih lazim dikenal masyarakat sebagai bahan perekat pada campuran beton, akan tetapi nama tersebut berawal dengan semen portland (portland cement) pada tahun 1824, dimana nama tersebut diusulkan oleh Joseph Aspdin berdasarkan pertaman kali diolah di Pulau Portland, dekat pantai Dorset, Inggris. Semen portland pertama kali diproduksi di pabrik oleh David Saylor di Coplay Pennsylvania, Amerika Serikat pada tahun 1875, sejak saat itu semen berkembang sesuai dengan peradaban manusia. Semen sendiri bersifat pozzolan karena campuran air, pasir, dan bebatuan.

Di Indonesia sendiri telah memiliki banyak pabrik semen portland modern dengan mutu international. Pabrik semen di Indonesia tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi antara lain :

a. Pabrik semen Indarung yang memproduksi Semen Padang di Padang Sumatera Barat serta Semen Baturaja yang memproduksi Semen Tiga Gajah. Keduanya terletak di Sumatera.

b. Pabrik Semen Gresik, Semen Cibinong, Semen Tiga Roda, dan Semen Nusantara terletak di Jawa.

c. Pabrik Semen Tonasa, Bosowa terletak di Sulawesi Selatan.

Semen yang ada dipasaran dalam kota Samarinda antara lain, semen tonasa, bosowa, gresik, tiga roda semua tersedia dalam bentuk zak, khusus untuk semen tonasa di Kota Samarinda tepatnya di Palaran, memiliki plant untuk pengisian semen dalam bentuk zak sehingga semen terjaga dari proses pembatuan.

Air, merupakan zat cair yang sangat diperlukan beton untuk memicu proses kimia semen, membasahi agregat dan memberikan kemudahan pada pekerjaan beton. Air yang dapat diminum umumnya dapat digunakan sebagai campuran beton. Karena pasta semen merupakan hasil reaksi kimia antara semen dengan air

Air yang dapat digunakan berupa air tawar (dari sungai, sumur air tanah, danau, telaga, kolam, dan lainnya), air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih, tidak boleh mengandung minyak, asam, alkali, zat organik atau bahan lain yang dapat merusak beton. Sumber air yang ada adalah antara lain :

a. Air yang terdapat di udara

b. Air Hujan

c. Air Tanah

d. Air Permukaan

Di Samarinda sendiri air PDAM yang bersumber dari sungai mahakam dapat digunakan sebagai campuran pada beton yang sudah diproses menjadi air yang bisa dikomsumsi sehingga sangat layak dipergunakan dalam campuran beton.

Agregat Kasar, merupakan bahan campuran beton yang memiliki ukuran terbesar antara 10 – 40 mm, kandungan agregat kasar pada campuran beton berdasarkan pengalaman, komposisi agregat berkisar 60 – 70 % dari berat campuran. Agregat yang digunakan pada campuran beton dapat berupa agregat alam atau agregat buatan. Agregat kasar dipasaran umumnya ada 2 jenis yaitu batu pecah atau biasa disebut split, dan koral. Batu pecah atau split memiliki permukaan yang kasar dimana telah melalui proses pemecahan berdasarkan ukuran yang ada dengan alat Stone Crusher, koral memilik permukaan yang licin dimana hasil penambangannya terdapat di sungai yang dangkal dengan kedalaman antar 10 – 20 cm.

Agregat kasar yang terdapat di Samarinda sangat bervariasi, ada yang berasal dari Sempaja, Jongkang, Melak, Sengata, Penajam, dan masih banyak lagi yang belum diexploetasi sehingga belum banyak dikenal masyarakat Kalimantan Timur.

Umumnya untuk perencanaan gedung tingkat tinggi di kota Samarinda, para owner, kontraktor lebih cenderung memilih agregat kasar yang didatangkan dari Palu, karena memiliki sifat fisik dan mekanis lebih bagus dibandingkan dengan agregat yang ada di Kalimantan Timur.

Agregat Halus, merupakan bahan pengisi pada campuran beton yang memiliki ukuran butiran kasar 4,75 mm dan halus 0,075 mm. Berdasarkan pengalaman, komposisi campuran berkisar 30 – 40 % dari berat campuran. Agregat yang digunakan pada campuran berasal dari alam.

Di Samarinda, agregat halus sangat banyak dipasaran, seperti agregat halus dari Tenggarong, Samarinda (Mahakam), Muara badak, Samboja, dan yang berasal dari Palu. Agregat halus yang ada di Kota Samarinda (lokal) memilik butiran yang seragam dan sangat halus, sedangkan agregat halus palu memiliki butiran yang tidak seragam dan lebih dominan dipergunakan untuk campuran beton pada struktur gedung tingkat tinggi.

KELEBIHAN BETON

1. Mudah untuk dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan keperluan kontruksi.

2. Memiliki kemampuan menahan beban yang berat.

3. Tahan terhadap temperatur disekitarnya.

4. Biaya perawatan yang dapat terjangkau/relatif lebih murah (ekonomis).

5. Dapat dicor ditempat.

6. Energi efisien.

KEKURANGAN BETON

1. Bentuk yang sudah ada sulit untuk dirubah.

2. Pekerjaan dan plaksanaan perlu ketelitian yang tinggi.

3. Terlalu berat.

4. Memiliki pantulan suara yang besar.

5. Tegangan tarik rendah.

6. Duktibilitas rendah.

7. Volume yang tidak stabil.

FUNGSI AGREGAT DALAM BETON

Di dalam beton, agregat kasar dan halus mengisi sebagian besar volume beton, yaitu antara 50 – 80 %, sehingga sifat dan mutu agregat sangat berpengaruh terhadap sifat dan mutu beton.

Tujuan pemakaian agregat dalam beton adalah sebagai berikut :

1. Mengurangai pemakaian semen.

2. Menghasilkan kekuatan yang besar pada beton.

3. Mengurangi susut pengerasan beton.

4. Memperoleh susunan yang padat pada beton, dengan pembagian butiran agregat yang baik akan diperoleh beton yang baik.

5. Sebagai kontrol dalam pelaksanaan atau memudahkan dalam pekerjaan apabila gradasi yang baik, maka akan diperoleh beton yang mudah dikerjakan.

Semakin banyak agregat yang digunakan dalam beton, maka akan semakin hemat pemakaian semen dalam beton, sehingga semakin murah harganya beton. Akan tetapi pemakaian bahan bebatuan ada batasnya, dikarenakan pasta semen diperlukan perletakan butiran dalam pengisian rongga-rongga halus dalam adukan beton.

Pembagian butiran yang baik dalam beton tentu akan menghasilkan beton yang padat, sehingga volume rongga berkurang dan pemakaian semen berkurang pula. Susunan beton yang padat akan menghasilkan beton dengan kekuatan yang besar.

SIFAT – SIFAT AGREGAT

Dalam pemakaian agregat ada beberapa syarat/spesifikasi yang harus diketahui agar dapat digunakan sebagai campuran beton antara lain :

1. Daya serap agregat terhadap air

2. Kadar air yang terkandung dalam agregat

3. Ketahanan terhadap perubahan cuaca

4. Reaksi alkali – silika

5. Zat kimia yang dapat memperburuk beton

6. Partikel-partikel yang tidak kekal

7. Sifat kekal bentuk

8. Susunan butiran agregat

MEMBUAT BETON YANG BAIK

Dalam pelaksanaan pembuatan beton di lapangan bisa dilakukan dengan manual yaitu dengan pemakaian mesin molen dengan kapasitas kecil, dan memakai jasa ready mix dimana beton siap langsung di cor di lapangan.

Di lapangan sering dijumpai cara-cara membuat beton yang tidak benar, sehingga menghasilkan beton yang tidak memenuhi syarat – syarat yang ditentukan, hal tersebut menjadi tanggung jawab dari petugas – petugas yang ada di lapangan pekerjaan, baik mereka berfungsi sebagai pengawas, quality control, maupun pelaksana. Untuk mendapat beton yang baik menuntut banyak hal, jika mereka yang bertugas memahami betul apa itu beton.

Untuk menjamin agar beton yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang diminta, dianjurkan agar terlebih dahulu menguji agregat yang akan dipergunakan, selanjutnya membuat uji coba (trial mix) beton atau campuran uji beton setelah (mix desain) rancangan campuran dilakukan.

Faktor yang mempengaruhi mutu beton antara lain sebagai berikut :

1. Mutu agregat kasar dan halus.

2. Jenis dan mutu semen.

3. Faktor air semen.

4. Pembagian butiran agregat/susunan butir agregat (gradasi).

5. Pelaksanaan pembuatan beton.

6. Perawatan beton (curing), untuk mendapatkan kekuatan yang diinginkan.

SIFAT UMUM BETON

Pada umumnya beton terdiri dari semen, air, dan udara, sebagiannya pasir dan kerikil. Campuran tersebut setelah mengeras akan memiliki sifat-sifat yang berbeda, tergantung pada cara pembuatannya, dengan kata lain sifat-sifat penting dari beton yang ada dalam suatu konstruksi harus disesuaikan dengan kebutuhan.

Sifat yang ada pada beton sebagai berikut :

1. Kemampuan dikerjakan (Workability)

2. Sifat tahan lama (Durability)

3. Sifat kedap air

4. Kekuatan beton

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKUATAN BETON

1. Faktor air semen dan kepadatan

2. Umur beton

3. Jenis semen

4. Jumlah semen

5. Sifat agregat

6. Cara pelaksanaan pembuatan beton

PELAKSANAAN PEMBUATAN BETON

Suatu hal yang sangat penting dalam beton, adalah pelaksanaan pembuatan beton atau pengelolahan beton. Pengelolahan beton terdiri dari menakar (menimbang) bahan-bahan, mengaduk/mencampur, mengangkut dari tempat mengaduk kepengecoran, mencetak (memasukkan aduk ke dalam cetakan), memadatkan, dan merawat.

Penakaran (Penimbangan) Bahan-bahan, adalah pengambilan bahan-bahan untuk beton menurut takaran yang ditentukan. Takaran bahan dapat ditentukan menurut perbandingan berat atau perbandingan volume, baik penakaran dengan ukuran berat maupun dengan volume, penakaran harus dilakukan dengan cermat. Takaran yang tidak tepat dapat mengakibatkan kualitan beton yang dihasilkan mungkin kurang memenuhi syarat mutu. Terutama takaran yang berkaitan dengan banyaknya air pengaduk atau banyaknya semen, sebab jika faktor air semen tidak tepat maka akan sangat mempengaruhi kualitas betonnya. Makin besar harga faktor air semen pada komposisi bahan yang sama, akan makin kecil kekuatan beton yang dihasilkan.

Di lapangan, pekerjaan penakaran bahan lebih mudah dilakukan dengan ukuran volume. Jika jumlah bahan-bahan beton disyaratkan diukur dengan berat, dapat menjadi bentuk volume, dengan membuat takaran yang isinya disesuaikan dengan perbandingan berat. Atau perbandingan berat ditentukan diperhitungkan dengan perbandingan volume, dengan cara menghitung berat isi pada setiap jenis bahan yang digunakan. Dengan bahan yang tepat, maka beton yang dihasilkan diharapkan dapat memenuhi syarat mutu yang ditentukan.

Pengadukan beton, adalah proses pencampuran antara bahan-bahan dasar beton, yaitu semen, pasir, kerikil, dan air dalam perbandingan yang telah ditentukan. Pengadukan dilakukan sedemikian rupa sampai adukan beton benar-benar homogen, warnanya tampak rata, kelecakan cukup (tidak terlalu cair dan tidak terlalu kental), tidak tampak adanya pemisahan butiran (segregasi). Adukan beton yang kurang homogen akan dapat menghasilkan beton yang kurang baik kualitasnya. Pengadukan dapat dilakukan dengan tangan atau dengan mesin (molen).

Pengadukan dengan tangan, biasanya dilakukan apabila jumlah beton yang dibuat tidak banyak. Cara ini juga dilakukan jika di tempat pekerjaan tidak ada mesin pengaduk atau tidak diinginkan adanya suara mesin yang dirasa mengganggu.

PBI tahun 1971 mensyaratkan beton yang boleh diaduk tanpa mesin hanyalah beton mutu Bo saja. Pencampuran dengan menggunakan tangan dilakukan dengan cara mencampur semen dengan pasir secara kering terlebih dahulu di tempat yang rata, keras dan tidak menyerap air. Pencampuran ini dilakukan sampai campuran benar-benar homogen yang ditandai dengan tercapainya warna yang sama pada seluruh campuran. Kemudian campuran ini dicampurkan dengan kerikil/split yang sudah ditakar, dan diaduk sampai homogen pula. Alat yang digunakan dapat berupa cangkul, sekop atau cetok besar. Kemudian di bagian tengah gundukan campuran tadi dibuat lubang, lalu dimasukkan air sebanyak kira-kira 75 % dari jumlah air yang diperlukan, dan diaduk sampai rata, baru sisa air ditambahkan dan aduk lagi sampai homogen. Adukan yang telah homogen siap untuk dicetak.

Pengadukan dengan mesin, dilakukan untuk pekerjaan-pekerjaan besar yang menggunakan beton dalam jumlah banyak, pengadukan dengan menggunakan tangan akan dapat menghasilkan kualitas beton yang kurang bagus, karena tenaga manusia jika sudah capai akan dapat menghasilkan adukan yang kurang homogen. Dalam hal ini pengadukan dengan mesin akan lebih memuaskan, karena dapat menghasilkan adukan beton yang lebih baik/homogen, dan dapat dilakukan dengan ukuran yang lebih tepat serta dengan faktor air semen sedikit lebih kecil daripada diaduk dengan tangan. Kecuali itu, pengadukan dengan mesin akan menghasilkan beton yang hampir seragam.

PENUTUP

Beton merupakan campuran dari bahan-bahan alam yang dibentuk oleh rekayasa para insiyur sipil sehingga menyerupai batu, kebutuhan akan beton sudah menjadi trend dan apabila dilihat dari segi efisien sangat memberi manfaat untuk dipergunakan pada pekerjaan struktur tingkat tinggi. Di samping itu metode pekerjaan dan pelaksanaan harus tetap diperhatikan untuk menjaga mutu beton yang bagus, serta tidak terlepas dari pada pengendali mutu.(Quality Control).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006. Artikel Pribadi

Adiyono, 2006. Konstruksi Beton. Cetakan I Jakarta.

Mulyono Tri, 2004. Teknologi Beton. Edisi I Penerbit Andi Yogyakarta.

Samekto Wuryati, Rahmadiyanto Candra, 2001. Teknologi Beton. Cetakan V Penerbit Kanisius Yogyakarta

Rabu, 20 Agustus 2008

Kelelawar Pantai

Assalamualaikum. Wr. Wb

Kelelawar pantai ini berada di daerah Provinsi Sulawesi Tenggara tepat di Kabupaten Kolaka, gambar video diambil pagi hari berkisar jam 9.00 wita.

Pengambilan gambar video bertepatan 2 hari setelah hari raya idul fitri tahun 2007, daerah tersebut menjadi areal wisata pantai yang rame dikunjungi masyarakat setempat untuk berlibur sejenak dari aktifitas...demikian juga saya pada saat itu berlebaran di tempat tempat tersebut.

Pantai tersebut memiliki pasir yang putih dan air laut yang bersih dari sampah plastik dan lainya, jarak tempuh ke tempat areal wisata pantai tersebut memerlukan waktu 1 jam perjalanan dari ibukota kabupaten kolaka..

My first post

Apakabar dunia...

Sangat membahagiakan dan menyenangkan untuk berexpresi dan berimajinasi. Dengan harapan agar menjadi referensi untuk meniti hari-hari serta menyertai langkah-langkahku menatap indahnya alam cipataan Tuhan

Silahkan tinggalkan komentar, apapun itu, demi kenyamanan dan kegembiraan yang bisa diperoleh disini

terima kasih, wassalam